Aurelie tidak melarang orang berpendapat, tetapi ia menekankan bahwa publik tidak sepatutnya menyerang siapa pun hanya karena dugaan.
“Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan,” tegasnya.
Menutup pesannya, Aurelie berharap ruang diskusi tetap hangat dan manusiawi.
Ia menekankan bahwa buku tersebut ia tulis untuk membangun kesadaran, bukan untuk menciptakan “target” baru di internet.
“Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully. Aku menulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let's keep this space kind, aman, dan penuh empati,” tutupnya.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1