Keluarga mengungkap kondisi Ammar yang dinilai cukup memprihatinkan.
Menurut sang adik, Aditya Zoni, Ammar hanya mendapat waktu sekitar satu jam sehari untuk keluar sel.
Bahkan untuk minum air pun dilakukan dengan pengawasan ketat.
“Kakinya katanya mulai kebas karena jarang gerak, mau minum aja katanya ditutup matanya,” ujar Aditya dalam sebuah wawancara.
Dalam sidang daring, Ammar terlihat berpenampilan berbeda dengan kepala plontos dan wajah lebih segar.
Namun, keluarga menilai kondisi psikologisnya masih terguncang akibat tekanan di lapas.
Aditya Zoni berharap majelis hakim memberi izin agar Ammar bisa dihadirkan langsung ke ruang sidang.
Menurutnya, hal itu penting agar Ammar dapat membela diri secara bebas dan manusiawi.
“Saya cuma berharap Bang Ammar bisa datang langsung ke sidang. Biar bisa ngomong apa adanya tanpa batas,” tambahnya.
Keluarga juga meminta agar pihak lapas dan pengadilan memberi ruang komunikasi yang layak antara Ammar dan tim kuasa hukum.
Majelis hakim PN Jakpus mengatakan pihaknya masih mengkaji permohonan sidang offline.
Jika dikabulkan, pemindahan Ammar dari Nusakambangan akan memerlukan izin keamanan dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan serta kepolisian.
Namun, apabila tetap dilakukan secara daring, hakim menjamin Ammar tetap diberi kesempatan menyampaikan pembelaannya secara maksimal.