Netizen lain menyoroti diksi “pihak yang kembali mengangkat kasus tahun 2010 yang dinilai seperti menggeser fokus, padahal menurut mereka persoalannya adalah kasus lama yang dianggap tak tuntas dan korban baru berani bersuara setelah bertahun-tahun.
“Sedih banget liat klarifikasi yg seperti itu ya. Dengan bilang pihak yang kembali mengangkat kasus tahun 2010. Justru ka seto jika anda berkaca dan anda sadar ini kasus yg tidak terselesaikan since 2010 loh dan korban baru berani speak up dan bangkit since 2010 itu. Anda sudah gagal menyelematkan anak itu,” komentar @kur***.
Komentar lainnya menekankan bahwa sikap netral dan ajakan “damai” tanpa mengakui kegagalan atau menunjukkan empati dinilai tidak membantu korban, bahkan bisa terasa menyakitkan bagi orang yang membaca pengalaman tersebut.
“Ini bukti kak seto ga memahami dan ga cukup berempati sm korban grooming plus perkosaan plus kdrt. netral-mu tdk membuat korban merasa lebih baik. gua aja yg cuman netizen ga suka sm statementmu kak. Hari gini emang mending curhat ama netizen. Lebih helpful,” kata @har***.
Hingga kini, unggahan Kak Seto dan reaksi publik masih terus memicu perdebatan.
Di satu sisi ada yang menilai ajakan tidak memelintir fakta penting untuk menjaga ketenangan, namun di sisi lain banyak yang menuntut pendekatan yang lebih berpihak pada korban, terutama ketika kasus lama kembali dibuka dan dibicarakan luas di ruang publik.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1