Namun, ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut memberi pelajaran besar tentang cara menyampaikan kritik lewat medium film.
Menurutnya, ada pendekatan yang lebih elegan, lebih strategis, dan tetap kuat secara pesan tanpa harus memantik konflik frontal.
“Dari pengalaman itu saya belajar menyampaikan ekspresi tanpa membuat pihak tertentu merasa diserang secara langsung,” ungkap Hanung.
Selain perubahan cara bercerita, Hanung memastikan bahwa proyek film ini didukung oleh sistem keamanan yang jauh lebih baik, baik dari sisi asosiasi maupun pendampingan hukum.
“Kali ini kami tidak bekerja sendirian. Ada komunitas, ada asosiasi, bahkan dukungan legal yang siap membantu kapan pun,” pungkasnya.
Dengan dukungan penuh dari Zaskia, Hanung kini semakin mantap menuntaskan produksi Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi.
Ia menyebut film ini bukan sekadar karya hiburan, tetapi juga bentuk protes dan pertanyaan besar terhadap sejarah yang masih belum menemukan titik terang.
Meski jadwal tayang nasional belum diumumkan, film ini akan memulai langkah internasionalnya melalui world premiere di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026.
*Peserta Magang Kemnaker Batch 1