- Penyalahgunaan citra publik. Mengedit seakan-akan berfoto dengan selebritas melanggar hak citra dan bisa menyesatkan audiens.
3. Miniatur Bergerak: Dari Statis ke Animasi
Apa itu?
Pengembangan dari tren figurine 3D. Kini, miniatur bisa dibuat “hidup” lewat animasi pendek atau loop, menambah kesan dinamis pada konten.
Kenapa viral?
- Konten bergerak lebih menarik perhatian.
- Banyak tutorial dan template membuatnya mudah ditiru siapa saja.
Sisi negatif:
- Bias representasi. Studi menemukan model AI sering menghasilkan gambar lebih akurat untuk orang kulit putih dibanding ras lain, memperkuat stereotip.
- Distorsi identitas. Wajah seseorang bisa direkayasa dalam bentuk animasi tanpa izin, memicu pertanyaan soal keadilan dan keamanan digital.
Tantangan Lebih Besar: Etika, Psikologi, dan Hukum
- Fenomena ini tidak berhenti di tren kreatif saja. Ada dampak lebih luas yang perlu dicermati.
- Bias sistematis. AI kerap menggambarkan orang dengan warna kulit atau gender tertentu secara keliru.
- Kenangan palsu. Visual hasil AI bisa membuat orang yakin pada hal yang tak pernah terjadi.
- Eksploitasi anak. Foto anak rentan digunakan tanpa izin dalam deepfake maupun materi berbahaya.
- Ketiadaan regulasi. Di Indonesia, regulasi soal deepfake dan konten AI masih terbatas sehingga penegakan hukum sulit dilakukan.
Rekomendasi Praktis
- Bagi pembuat konten: selalu beri label “AI-generated,” minta izin sebelum menggunakan foto orang lain, dan hindari klaim emosional yang bisa menyesatkan.
- Bagi platform AI: terapkan watermark otomatis, perbaiki dataset agar lebih representatif, dan siapkan filter konten sensitif.