INSELEB.COM – Gelombang penolakan terhadap penggunaan karya kreatif untuk melatih kecerdasan buatan kembali menguat di awal 2026.
Kali ini, sorotan mengarah pada kampanye bertajuk Stealing Isn’t Innovation yang menuding praktik pemanfaatan karya tanpa izin sebagai tindakan yang merugikan kreator.
Kampanye tersebut ramai diberitakan pada Kamis, 22 Januari 2026, seiring munculnya pernyataan bersama yang menyasar perusahaan pengembang AI generatif.
Gerakan ini disebut dipimpin oleh Human Artistry Campaign dan didukung serikat serta organisasi industri kreatif, termasuk SAG-AFTRA dan Writers Guild of America.
Jumlah pendukungnya juga tidak sedikit. Sejumlah media melaporkan sekitar 800 kreator ikut terlibat, mulai dari aktor, penulis, hingga musisi dan band.
Nama-nama yang ikut menandatangani dukungan pun menarik perhatian publik karena datang dari lintas bidang. Di antaranya disebut ada Scarlett Johansson dan Cate Blanchett, juga sejumlah musisi seperti R.E.M. serta Billy Corgan.
Inti pesan kampanye ini menyoroti keluhan lama yang makin memanas: banyak perusahaan AI dituding “menyedot” materi berhak cipta dari internet untuk membangun model generatif, tanpa persetujuan pemilik karya dan tanpa kompensasi yang jelas.
Para pendukung kampanye menilai praktik tersebut bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut hak ekonomi dan moral kreator. Mereka menuntut agar penggunaan karya untuk pelatihan AI ditempuh lewat mekanisme perizinan yang transparan.
Dalam pemberitaan, kampanye ini juga mendorong agar industri AI mengadopsi model lisensi dan kemitraan sebagai jalan tengah, sekaligus menegaskan pentingnya penegakan hak cipta ketika karya dipakai untuk melatih sistem.
Isu ini terasa makin sensitif karena AI generatif bukan hanya memproduksi teks atau gambar, tetapi juga mampu meniru gaya musik, pola komposisi, bahkan karakter suara, yang bagi banyak seniman dianggap sebagai bagian dari identitas artistik.
Kekhawatiran itu turut diperkuat oleh pengalaman dan kontroversi yang pernah ramai sebelumnya terkait kemiripan suara serta pemakaian karakter vokal, sehingga kampanye ini cepat mendapat simpati lintas profesi, tidak hanya musisi.
Dari sisi strategi, kampanye ini tidak hanya berhenti pada pernyataan dukungan. Dokumen perencanaan kampanye yang beredar menunjukkan pendekatan komunikasi publik yang menyasar pembuat kebijakan dan opini masyarakat lewat berbagai kanal.
Dengan kata lain, isu AI dan hak cipta kini sedang diposisikan sebagai agenda yang harus dibahas serius di tingkat regulasi, bukan lagi sekadar perdebatan di media sosial.
Di ranah musik internasional, dukungan musisi besar memberi bobot tambahan karena industri rekaman adalah salah satu sektor yang paling rentan terhadap peniruan gaya dan eksploitasi katalog, terutama ketika karya-karya lama sangat mudah dikumpulkan sebagai data pelatihan.