INSELEB.COM - Dalam beberapa bulan terakhir, platform seperti Google Gemini dan model AI sejenis memunculkan tren visual yang cepat viral.
Dari figur miniatur 3D hingga foto Polaroid bergaya nostalgia, banyak orang ikut mencoba karena hasilnya instan, estetik, dan mudah dibagikan di media sosial.
Namun, di balik keseruan itu, ada sisi gelap yang jarang dibicarakan: distorsi identitas, kenangan palsu, hingga risiko pelanggaran privasi.
Mari kita bahas tiga tren AI yang sedang naik daun dan mengapa sebagian membuat orang merasa tidak nyaman.
1. Nano-Banana / Figurine 3D: Estetika “Aksi Koleksi”
Apa itu?
Tren ini mengubah foto biasa menjadi gambar menyerupai boneka atau figurine 3D lengkap dengan pencahayaan studio.
Hasilnya tampak lucu, imut, dan seperti barang koleksi.
Kenapa viral?
- Siapa pun bisa membuatnya hanya dengan prompt sederhana.
- Hasilnya terlihat profesional tanpa butuh keahlian desain.
- Format “figur mini” mudah memancing komentar dan share di Instagram maupun TikTok.
Sisi negatif:
- Mengaburkan realitas. Gambar terlihat begitu nyata sehingga sulit membedakan mana yang asli, mana yang rekayasa.
- Privasi terancam. Foto anak kecil yang diubah jadi figurine bisa beredar tanpa izin, membuka celah eksploitasi dan penyalahgunaan.
2. Polaroid Nostalgia: Foto Lama yang Terasa Nyata
Apa itu?
Prompt ini menghasilkan foto dengan gaya Polaroid atau retro, seolah-olah menangkap momen lama. Banyak dipakai untuk membuat “foto bersama selebritas” atau bahkan “foto bersama orang tua yang sudah tiada.”
Kenapa viral?
- Efek nostalgia selalu kuat di media sosial.- Gaya Polaroid memberi kesan sentimental, membuat orang lebih mudah terikat secara emosional.
Sisi negatif:
- Menanamkan memori palsu. Penelitian menunjukkan visual manipulatif dapat menanamkan “false memories.” Jika dipakai untuk foto keluarga atau momen personal, ini bisa berdampak serius secara psikologis.