Sejumlah warganet menilai Dewi keliru karena membandingkan kondisi bencana di Sumatera dengan Jawa Timur, mengingat dampak yang ditimbulkan berbeda.
Menanggapi polemik yang semakin meluas, Dewi Perssik akhirnya memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya.
Ia menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial merupakan rekaman siaran langsung yang telah dipotong-potong, sehingga menimbulkan kesalahpahaman di publik.
Dewi menjelaskan bahwa maksud ucapannya bukan untuk merendahkan atau membandingkan penderitaan masyarakat Aceh.
Ia menyebut pernyataannya ditujukan kepada oknum tertentu yang dinilai memanfaatkan situasi bencana untuk kepentingan pribadi dan memicu perpecahan.
Dalam klarifikasinya, Dewi juga mengaku telah ikut terlibat dalam penggalangan dana bagi korban bencana, termasuk kegiatan yang dilakukan bersama TNI di Surabaya.
Ia menegaskan bahwa membantu korban tidak selalu harus diumbar ke publik.
Selain itu, Dewi Perssik turut mengungkap bahwa wilayah Lumajang dan Jember memiliki kedekatan personal baginya, lantaran keluarganya juga berada di daerah terdampak bencana lahar dingin akibat erupsi Gunung Semeru.
Sebagai informasi, bencana banjir dan tanah longsor masih melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh sejak akhir November 2025.
Berdasarkan laporan terbaru BNPB per 21 Desember 2025, bencana tersebut menyebabkan ribuan warga terdampak, ratusan dinyatakan hilang, serta ribuan lainnya harus mengungsi.
Sementara itu, di Jawa Timur, masyarakat di wilayah Lumajang dan Jember juga menghadapi banjir lahar dingin akibat aktivitas Gunung Semeru.
Perbedaan kondisi dan dampak bencana inilah yang kemudian menjadi sorotan publik dalam polemik pernyataan Dewi Perssik.
Melalui klarifikasinya, Dewi Perssik berharap publik tidak menilai pernyataannya dari potongan video semata dan memahami konteks utuh dari apa yang ia sampaikan dalam siaran langsung tersebut.