“Versi Korea-nya udah terkenal banget, tapi kita pengin versi ini punya rasa sendiri. Rendra ini bukan CEO biasa, tapi sosok pemimpin yang tetap punya wibawa dengan cara yang lebih Indonesia," lanjutnya.
Sementara bagi Mawar de Jongh, memerankan Kimberly menjadi perjalanan emosional tersendiri.
“Sekretaris Kim ini profesional, tapi juga manusia yang sedang belajar mengenal dirinya sendiri. Aku suka karena di versi ini ceritanya terasa lebih dekat dengan kehidupan kita,” ungkapnya.
Untuk memperkuat karakter, Mawar bahkan melakukan pengamatan langsung.
“Aku sempat ngobrol dan memperhatikan teman-teman yang kerja di kantor, dari cara mereka berbicara, berpakaian, sampai bagaimana bersikap ke atasan,” jelasnya.
Yang membuat versi Indonesia ini terasa berbeda adalah sentuhan keseharian yang sangat akrab.
Sutradara Rako Prijanto menegaskan bahwa semuanya diramu dengan nuansa yang terasa dekat, suasana rapat pagi yang riuh, dinamika tim, hingga obrolan ringan di pantry.
“Kami ingin penonton melihat dinamika antara bos dan sekretaris yang tidak berlebihan. Romantis, iya, tapi juga hangat dan dekat dengan keseharian orang kantoran di Indonesia,” ujarnya.
Chemistry yang sudah terbangun sejak proyek-proyek sebelumnya juga menjadi kekuatan utama film ini.
“Bisa main bareng Mawar lagi itu menyenangkan banget, karena udah ada rasa nyaman yang bikin prosesnya lebih natural,” kata Adipati.
Pada akhirnya, What’s Up with Secretary Kim? bukan sekadar kisah cinta antara atasan dan sekretaris.
Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri, mengambil keputusan sulit, dan memahami bahwa cinta sering hadir tanpa kita rencanakan.
Dengan durasi 1 jam 37 menit, film ini disampaikan secara padat, lembut, dan emosional, serta menjadikannya salah satu adaptasi yang paling dinantikan di akhir tahun.