Dalam unggahannya, ia menyebut bahwa segmen tersebut telah berjalan selama delapan tahun dan tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun.
Meski sudah meminta maaf, pernyataan ini belum sepenuhnya meredakan amarah publik.
Banyak yang menilai klarifikasi tersebut masih kurang peka terhadap konteks penggunaan foto korban nyata.
Warganet Pertanyakan Etika Produksi.
Beberapa penonton setia juga mengaku baru sadar setelah viralnya isu ini.
“Aku sering nonton videonya, tapi gak ngeh kalau ada foto itu. Tapi sebagai orang yang buat konten misteri kriminal, harusnya tahu dong itu foto siapa dan gak etis banget dipajang,”akun @jjal, tulisnya.
Banyak warganet menyoroti tanggung jawab moral seorang kreator konten, terutama yang membahas tema kejahatan atau misteri.
Kesalahan seperti ini dianggap bisa mencederai ingatan terhadap korban.
“Hah?? Jadi ini udah lama jadi dekorasi? Kok bisa timnya mikir foto seorang korban dijadiin pajangan gitu,” akun @ifaisea***, tulisnya.
Komentar ini menggambarkan kebingungan dan kekecewaan penonton yang merasa penggunaan foto korban tidak pantas dijadikan unsur estetika untuk acara hiburan.
Kontroversi ini menunjukkan pentingnya sensitivitas dan empati dalam produksi konten, terutama ketika berhubungan dengan tragedi nyata.
Meski telah berjalan lama, penggunaan foto korban kejahatan sebagai dekorasi tetap dinilai tidak etis oleh banyak pihak.
Kasus ini kini menjadi bahan refleksi bagi banyak kreator di Indonesia tentang batas antara hiburan dan penghormatan terhadap korban nyata.