Ia menilai, mempertahankan pernikahan yang sudah tidak harmonis justru akan memberi dampak buruk bagi psikologis anak.
Karena itu, ia memilih untuk berpisah secara baik-baik.
“Tidak ada yang saya sesali. Saya hanya ingin semua berjalan baik. Hubungan kami tetap harus harmonis sebagai orang tua, meski sudah tidak lagi sebagai pasangan,” tambah Bedu.
Banyak pengamat menilai sikap Bedu mencerminkan kedewasaan dalam menghadapi dinamika rumah tangga.
Perceraian, yang seringkali berakhir dengan konflik berkepanjangan, dalam kasus ini justru bisa menjadi jalan tengah untuk menjaga keharmonisan keluarga dalam bentuk yang berbeda.
Anak-anak tetap mendapatkan perhatian, sementara orang tua bisa menjalani hidup masing-masing dengan lebih tenang.
Langkah Bedu juga diharapkan menjadi inspirasi bagi pasangan lain yang menghadapi permasalahan serupa.
Bahwa perceraian bukan akhir dari segalanya, melainkan bisa menjadi awal baru jika dijalani dengan niat baik dan tanggung jawab.
Dalam pandangan banyak orang, Bedu membuktikan bahwa seorang ayah tetap bisa menunaikan kewajiban terbaiknya meski tak lagi hidup satu atap dengan anak-anaknya.
Di sisi lain, keputusan Bedu ini sekaligus menegaskan bahwa perceraian tidak harus selalu identik dengan saling menyalahkan atau perebutan harta.
Justru, keberanian untuk merelakan demi kepentingan bersama adalah bentuk cinta yang lebih dewasa.
Meski pahit, publik mengapresiasi sikap Bedu yang berusaha menjaga marwah keluarganya di tengah sorotan media.
Dengan menyerahkan rumah dan mobil, ia seolah ingin memastikan bahwa anak-anaknya tetap tumbuh dalam lingkungan yang stabil.