INSELEB.COM – Kabar mengejutkan datang dari industri hiburan global. The Walt Disney Company dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.000 karyawan, termasuk hampir seluruh tim pengembangan visual peraih penghargaan di Marvel Studios.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari restrukturisasi internal, di mana perusahaan akan beralih menggunakan sistem “skeleton crew” atau tim inti kecil yang nantinya akan mengoordinasikan perekrutan pekerja lepas (freelance) untuk setiap proyek.
Keputusan ini langsung menuai reaksi dari publik, khususnya para penggemar Marvel yang khawatir terhadap masa depan kualitas film-film MCU (Marvel Cinematic Universe).
Sejumlah pengguna X (sebelumnya Twitter) mengungkapkan pendapat mereka. Banyak yang menilai keputusan ini berisiko terhadap konsistensi visual yang selama ini menjadi ciri khas Marvel.
Tanggapan yang ramai diperbincangkan
“Sedih melihat tim pengembangan visual pemenang Academy Award di Marvel dipangkas seperti ini. Mereka adalah seniman yang membantu membentuk tampilan ikonik MCU selama lebih dari satu dekade.” akun @TechSoulGe***,tulisnya
Komentar ini menyoroti peran penting tim visual dalam membangun identitas kuat Marvel sejak era The Avengers hingga saat ini.
“Disney benar-benar seperti ingin mempercepat kejatuhan ‘kuantitas di atas kualitas’, ya?” akun @dimkovsk***,tulisnya
Kritik ini mencerminkan kekhawatiran bahwa fokus produksi massal tanpa kualitas yang konsisten bisa merusak reputasi Marvel ke depan.
“Ini bukan kabar baik untuk masa depan film Marvel. Semoga mereka yang terkena PHK segera mendapat pekerjaan baru.” akun @ScrollSuppl***,tulisnya
Selain soal kualitas film, banyak juga yang menunjukkan empati terhadap para pekerja kreatif yang terdampak.
Tak hanya itu, muncul pula kontroversi lain terkait nama internal proyek PHK yang disebut “Project Imagine”, yang dianggap sebagian publik sebagai tidak sensitif.
Dengan perubahan besar ini, masa depan Marvel kini menjadi tanda tanya. Apakah strategi baru ini akan membuat produksi lebih efisien, atau justru menurunkan kualitas yang selama ini menjadi kekuatan utama mereka?
(*Peserta Magang Kemnaker Batch 1