Unggahan Nessie kemudian dihapus.
Ia mengeluarkan pernyataan permintaan maaf melalui akun media sosialnya.
Dalam pesannya, Nessie mengaku menyesal dan mengakui kesalahannya karena kurang peka terhadap konteks budaya dan etika.
Ia juga menulis versi permintaan maaf dalam bahasa Jepang.
Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya meredam kemarahan publik.
Sebagian warganet menilai permintaan maaf itu terlambat, bahkan terasa seperti bentuk penyelamatan reputasi belaka.
Kasus ini memperlihatkan betapa sensitifnya isu lintas budaya di era digital.
Apa yang dianggap menarik di satu negara bisa dipandang tidak pantas di negara lain.
Dalam hal ini, netizen Jepang menegaskan bahwa tragedi nasional bukan bahan hiburan.
Bagi publik Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab kreator tidak berhenti pada ide konten saja, tapi juga pada rasa hormat terhadap korban dan nilai kemanusiaan.
Kini, nama Nessie Judge kembali viral, bukan karena kisah misteri yang biasa ia bawakan, tapi karena kontroversi yang membuka diskusi soal etika dan batas kreativitas di internet.