RADARLAMPUNG.CO.ID — Produktivitas padi di Kota Metro mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu penyebab utamanya adalah kerusakan jaringan irigasi tersier (JIT) di sejumlah kawasan persawahan kota.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Metro.
Heri Wiratno, mengatakan bahwa kondisi JIT saat ini banyak yang bocor, tersumbat, dan tidak berfungsi optimal.
Akibatnya, suplai air ke lahan pertanian menjadi tidak lancar.
“Jika kita lihat data lima tahun terakhir, tren produksi padi di Metro ini terus menurun. Tahun 2020 produksi mencapai 31.513 ton, di 2021 naik menjadi 31.723 ton. Kemudian, produksi padi terus turun sampai di angka 30.558 ton di tahun 2023. Tahun 2024 hanya naik tipis ke 30.712 ton. Bila ditotal, kita sudah kehilangan sekitar seribu ton produksi dalam lima tahun terakhir ini,” ungkapnya, mengutip dari Radarlampungdisway.
Menurut Heri, banyak petani kini harus menggunakan pompa tambahan untuk mengairi sawah mereka karena saluran irigasi tidak berfungsi maksimal.
Hal tersebut membuat biaya produksi semakin besar.
“Di sisi lain, Komisi Irigasi juga lebih aktif dalam mengatur pola tanam dan tata air. Bantuan alat mesin pertanian juga datang dari segala arah, dan kemudahan subsidi listrik untuk irigasi perpompaan juga diberikan PLN,” kata Heri Wiratno, tambahnya.
Ia menegaskan pentingnya peran kelompok tani (Poktan) dan perkumpulan petani pemakai air (P3A).
Dalam menjaga keberlanjutan jaringan irigasi setelah perbaikan dilakukan, agar saluran tidak kembali rusak.
Petani Keluhkan Biaya Produksi yang Meningkat
Kerusakan jaringan irigasi membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan pompa dan bahan bakar.
Beberapa petani mengaku penghasilan mereka menurun karena hasil panen tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.