Baginya, kehilangan makhluk hidup seperti kucing jauh lebih menyakitkan dibanding kehilangan benda.
Ia juga menegaskan bahwa jogetnya dalam sidang MPR, yang sempat memicu kontroversi, hanyalah mengikuti musik, bukan menyombongkan diri.
Astrid sendiri sempat mengaku belum sanggup mengunjungi rumah setelah penjarahan.
Ia baru berani kembali setelah hampir sebulan, itupun dengan rasa berat.
Ketika masuk, ia langsung terhenti di mushola yang hancur dan tak kuasa menahan tangis.
Karangan bunga dari simpatisan yang memenuhi halaman rumah tak mampu menutupi duka mendalam melihat bagian paling sakral dalam rumah mereka berantakan.
Kunjungan ini sekaligus menjadi titik awal pemulihan.
Uya dan Astrid bertekad memperbaiki kerusakan, membersihkan sisa-sisa amukan, dan menghidupkan kembali suasana rumah.
Meski berat, mereka yakin rumah itu suatu saat akan kembali menjadi tempat nyaman dan penuh doa, bukan lagi zona penjarahan.