Ia juga menyebut akan menghubungi orang tuanya yang ia yakini sangat kecewa. Onad tidak menampik bahwa ia juga telah merepotkan dan merugikan banyak pihak yang sempat bekerja bersamanya.
“Gue mau ketemu anak gue dulu, gue pulang ke rumah dulu, baru gue mungkin telepon orang tua gue yang pasti kecewa banget. Teman-teman kerja gue yang udah gue rugiin lah ibaratnya,” tuturnya.
Di luar keluarga, Onad juga menyebut ingin bersilaturahmi ke orang-orang yang selama ini memberi dukungan positif.
Ia mengisyaratkan ada beberapa sosok yang ingin ia temui setelah rindu dengan keluarga terpenuhi, termasuk Habib Ja’far yang kerap ia sebut sebagai teman diskusi yang menenangkan.
Dalam beberapa pernyataan yang beredar, Onad juga menyinggung bahwa pengalaman ini membuatnya lebih selektif dalam memilih pergaulan.
Ia menilai, lingkungan dan teman bicara memiliki peran besar dalam menjaga seseorang tetap berada di jalur yang sehat.
Sementara itu, publik mengetahui bahwa rehabilitasi ini merupakan rangkaian dari kasus penyalahgunaan narkotika yang menyeret nama Onad pada akhir 2025.
Pemberitaan saat itu menyebut ia diamankan dan kemudian menjalani asesmen yang mengarahkan pada rekomendasi rehabilitasi.
Onad pun sempat menyampaikan permintaan maaf pada fase awal kasus dan meminta doa agar bisa menjalani proses yang ada.
Kini, setelah tiga bulan berlalu, pernyataannya terdengar lebih matang karena disertai rencana konkret untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga dan menata hidup.
Jika ada satu hal yang paling menonjol dari kepulangan Onad hari itu, maka itu adalah perubahan cara ia memandang dirinya sendiri.
Ia tidak lagi tampil sebagai figur yang ingin terlihat kuat, melainkan seseorang yang mengakui rapuh dan sedang belajar bangkit.
Onad menutup momen itu dengan harapan sederhana: diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, diberi ruang untuk membuktikan perubahan, dan diberi waktu agar orang-orang yang ia kecewakan bisa memulihkan rasa percaya mereka perlahan-lahan.