Kalau dua kasus sebelumnya bikin bingung, cerita tentang Broken Avenue justru bikin emosi.
Band yang disebut-sebut berbasis AI ini mendadak viral di Spotify dan punya ratusan ribu pendengar. Musiknya terasa familiar, bahkan terlalu familiar.
Netizen dan musisi kemudian menemukan banyak kemiripan antara lagu-lagu Broken Avenue dengan band metalcore seperti Counterparts, Knocked Loose, hingga The Devil Wears Prada.
Bukan cuma dari segi sound dan struktur lagu, artwork album mereka pun dinilai mirip. Akibatnya, Broken Avenue dituding “nyomot” identitas kreatif band-band asli.
Respons publik langsung terbelah. Ada yang santai dan bilang, “yang penting lagunya enak”. Tapi jauh lebih banyak yang marah karena merasa AI dipakai buat meniru, bukan berkreasi.
Buat komunitas musik, ini bukan lagi soal selera, tapi soal etika.
Tiga kisah ini akhirnya mengerucut ke satu kesimpulan: AI di industri musik adalah dua mata pisau.
Di satu sisi, ia membuka pintu bagi orang-orang yang punya ide tapi minim sumber daya.
Di sisi lain, ketika identitas kabur, karya bisa diproduksi massal, dan algoritma mendorong apa pun yang cepat viral, musisi manusia berpotensi kalah bukan karena kualitas, tapi karena skala.
Apalagi platform seperti Deezer mengungkap bahwa ribuan lagu AI diunggah setiap hari, dan sebagian besar stream-nya diduga tidak organik.
Bandcamp bahkan memilih sikap tegas dengan melarang musik yang dibuat sepenuhnya atau sebagian besar oleh AI.
Dengan semua ini, satu hal jadi jelas: AI bukan lagi masa depan musik, tapi realita hari ini.
Pertanyaannya tinggal satu, apakah industri siap bikin aturan main sebelum panggung musik benar-benar dikuasai suara yang tak punya tubuh?