Karena itu, Inara merasa label “pelakor” atau pelaku perselingkuhan yang diarahkan kepadanya tidak tepat. Ia menyebut situasi yang terjadi bukan seperti yang dibangun warganet di media sosial.
"Kalau misalkan saya mengetahui sedari awal saudara Insan punya istri dan saya tetap melanjutkan pernikahan dalam kondisi saya tahu dia punya istri, mungkin bisa kalian bilang saya itu pelaku, tapi sedari awal saya tidak tahu," bebernya.
Menariknya, Inara juga tidak sepenuhnya menyalahkan Insanul. Ia menyebut tidak ingin menuduh Insanul sengaja memulai hubungan dengan niat buruk, tetapi ia mengakui ada kesalahan komunikasi dari keduanya.
"Tapi bukan berarti saudara Insan juga berniat buruk untuk membohongi, untuk memulai hubungan ini dengan kebohongan. Ya bisa dibilang ada salah saya juga, saya tidak bertanya, saudara Insan juga tidak menjelaskan," sambung Inara.
Sebelumnya, Inara juga sempat menjadi perhatian publik setelah menyebut Insanul Fahmi sebagai suami ketika menjelaskan alasan pencabutan laporan yang pernah ia ajukan.
Keputusan tersebut membuat publik terbelah, karena sebagian menganggap itu tanda Inara memilih “bertahan”, sementara pihak lain justru makin keras menyerang.
Di sisi lain, Inara juga telah beberapa kali menyampaikan bahwa banyak narasi liar yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya benar.
Ia menyebut sebagian cerita yang berkembang sudah melebar dan tidak sesuai kenyataan, meski ia mengakui bahwa pernikahan siri memang terjadi.
Saat ini, Inara tampak memilih tetap berjalan pada keputusan yang ia yakini, sekalipun konsekuensinya harus berhadapan dengan cancel culture dan opini publik yang tak kunjung reda.
Bagi Inara, fokus utamanya bukan lagi membuktikan sesuatu kepada warganet, melainkan menjalani hidup sesuai prinsip dan keyakinan yang ia pegang.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1